Ubah Negativitas jadi Kreativitas
January 3, 2012
Buku ini menegaskan bahwa negativitas hendaknya dirangkul, diberi ruang, dan jangan malah disangkal.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap fakta mengejutkan. Satu di antara dua orang dewasa sempat serius berpikir untuk bunuh diri. Para responden itu bergumul dengan perasaan tersebut selama seminggu atau lebih. Depresi juga merupakan penyakit keempat terbesar dunia. Bahkan, para ahli memprediksi bahwa stres kelak menjadi penyakit kedua terbesar (2020).
Buku ini memuat keterampilan untuk melemahkan pergulatan dalam diri. Penulisnya, Dr Russ Harris M.D., lahir di Liverpool, Inggris. Dia lulus sebagai dokter (1989) dari Universitas Newcastle di Inggris. Lantas, Dr Russ hijrah ke Negeri Kanguru (1991) dan berpraktik sebagai dokter keluarga.
Dia sering berkeliling Australia dan pergi ke mancanegara untuk memberikan terapi stres. Bersama Steven Hayes dan Kelly Wilson dari Amerika Serikat, Dr Russ meneliti dua fakultas dalam diri kita.
Yakni, diri berpikir dan diri mengobservasi. Tugas divisi pertama, antara lain, berpikir, membuat rencana, dan membandingkan. Sedangkan diri mengobservasi bertanggung jawab agar berfokus, memberikan perhatian, dan sadar.
Contohnya, tatkala menyaksikan matahari tenggelam, ada momen saat subjek sekadar mengagumi, “Betapa indahnya....” Sejenak hening, tak ada pikiran berseliweran. Hanya merekam spektrum warna di langit senja. Saat itu diri mengobservasi yang bekerja.
Tetapi, kemudian diri berpikir masuk. “Wow, lihatlah warna-warni itu! Ah, seandainya aku membawa kamera.” Semakin diri mengobservasi menaruh perhatian pada komentar diri berpikir, kita kian kehilangan kontak dengan matahari terbenam itu.
Diri berpikir mirip dengan siaran radio 24 jam nonstop. Isinya acara masa depan suram. Selain itu, ia mengingatkan trauma masa lampau. Kadang radio itu berhenti beberapa detik.
Para master Zen menguasai keterampilan tersebut. Pikiran seolah menjadi sepotong bahasa. Biarkan ia datang dan pergi. Salah satu tekniknya adalah berterima kasih pada pikiran (halaman 67).
Dr Russ mengajak sidang pembaca mengakui eksistensi pikiran yang tak menyenangkan (negative thinking). Berterimakasihlah padanya dan kembalikan perhatian kepada apa yang sedang kita kerjakan. ACT (acceptance and commitment therapy) berbeda dengan teori pikiran positif. Metode positive thinking ibarat menyalakan siaran radio kedua.
ACT berbeda pula dengan menafikan siaran radio pertama. Semakin kita menghindar, kian terasa sangat mengganggu suara itu. Penerimaan ialah kuncinya. Ada teknik pernapasan sederhana untuk melatih keterampilan tersebut (halaman 88).
Secara lebih mendalam, diulas pula enam prinsip ACT. Salah satunya, ekspansi, yakni memberikan ruang bagi perasaan tidak menyenangkan. Bukan menekan atau menyingkirkannya. Kalau kita memberikan ruang bagi emosi negatif, mereka akan segera pergi dan tak terlalu mengganggu.
Selanjutnya adalah keterhubungan, yakni hidup pada masa sekarang. Bukan berkubang di masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan, lebih baik terhubung dengan apa yang sedang terjadi. Seperti petuah Master Shifu dalam film Kung Fu Panda I, “Masa lalu ialah sejarah, masa depan masih misterius. Hari ini ialah berkah. Itulah kenapa disebut hadiah.”
Pelayaran
Keunggulan buku ini mampu menggambarkan teori rumit dengan analogi sederhana. Ihwal dikotomi kesadaran dan emosi bawah sadar (subconscious), Dr Russ mengilustrasikannya lewat adegan pelayaran.
Bayangkan kita mengemudi kapal di tengah lautan. Pada lambung kapal mendekam segerombolan iblis. Mereka bercakar runcing, bergigi tajam. Wujud setan itu beraneka ragam.
Berupa emosi rasa bersalah, marah, takut, dan tak berpengharapan (hopelessness). Selama kita menjaga kapal tetap berlayar di lautan, para iblis tetap tinggal di bawah. Tetapi, ketika kita mulai mengarahkan kapal menuju daratan, mereka akan naik kedek, mengepak-ngepakkan sayap, memamerkan gigi tajam, dan mengancam menyobek-nyobek kita menjadi serpihan kecil.
Namun, bila diamati secara cermat, iblis-iblis itu tidak pernah bisa menyakiti secara fisik. Mereka hanya bisa menggeram dan melambaikan cakar. Sejatinya, kita bebas selama bersedia menerima keberadaan mereka. Biarkan para iblis melolong. Toh, mereka tidak punya kekuatan apa pun atas diri. Energi iblis berbanding lurus dengan kepercayaan kita terhadap mereka.
Russ melihatnya sebagai konsekuensi evolusi. Spesies Homo Sapiens berumur ratusan ribu tahun. Manusia pada awal hidupnya masih nomaden, berburu, dan mengumpulkan makanan. Pikiran leluhur kita mengingat satu instruksi, “Jangan terbunuh!” Faktor penting agar tetap survive ialah mengenali lingkungan sekitar. Sebab, mungkin ada buaya di kolam itu.
Ternyata, pada zamam modern, pikiran kita melakukan hal serupa. Bedanya, bukan serigala berbobot 200 kg ancaman kita, melainkan kehilangan pekerjaan, ditilang polisi, tak bisa membayar tagihan listrik, demam panggung, terserang kanker, dan takut ditolak. Tak peduli seberapa kuat para iblis mengancam, biarkan mereka berputarputar silih berganti.
Buku ini bisa menjadi bacaan alternatif tatkala rak-rak toko buku mengerang menahan beban tumpukan buku motivasi berdasar penyangkalan emosi negatif. Dr Russ memberikan resep sederhana, “Rangkul negativitas sebagai keniscayaan hidup. Penerimaan ialah langkah pertama untuk mengubahnya menjadi energi kreativitas.” Selamat membaca! (*)
Posted by Israq Luthfan Sidiq.
